Jumat, 08 Januari 2010

..., silentium.

jika ia harusnya berwarna merah darah
maka kini ia berwarna merah sangat muda
pucat hampir kehilangan warna

jika ia harusnya penuh berisi dan padat
maka kini ia hanya berisikan udara
sesak namun tak terlihat

pada saat itu air tak lagi mampu menetes
gelombang suara terlalu lemah
daya pun tak signifikan

***

silentium

kepedihan tanpa suara
kepedihan yang terperangkap dalam hati

silentium

diam pun telah menjadi pilihan
karena bahasa tak mampu lagi menyampaikan rasa

silentium

diam. pedih. entah sampai kapan
semoga ia bisa bertahan

Senin, 07 Desember 2009

gue ga tau dengan jelas itu maksudnya apa, becanda? mancing? yang jelas menurut gw itu jahat. jahat banget. dia, mereka emang ga pernah menghargai perasaan gw.

jahat.

everything seems unreal now
i don't know whether whom i am with
sometimes i just need a real someone
a friend is more than enough

i never know where the people are
maybe it's just my illusion
well i began to lose my faith in everyone

Selasa, 22 September 2009

musim


daun pun telah menguning lalu segera meranggas
angin berhembus menghantar daun
hingga dunia menjadi putih gemerlap
angin tetap berhembus menghantar es

keabadian rasa, sungguhkah ia ada?
sungguhkah ada kesetiaan semacam itu?

kepercayaan sejati, sungguhkah ia ada?
sungguhkah ada ketetapan semacam itu?

aku, kamu dan dunia bertumbuh dan berubah
dihadapkan kepada kenihilan sang kebenaran sejati

sejauh apakah kau memandang realitas
masihkah kamu akan diam tanpa bertanya?

tersentak
apa kabar dengan konsep kepercayaan?

es pun akhirnya mencari, sungai pun mengalir
angin berhembus menghantar benih
hingga dunia menjadi semarak penuh warna
angin tetap berhembus menghantar panas

imajiner

aku melihat kesunyian yang begitu indah
ketika diam menghantarkan semua rasa melalui partikel partikel terkecil dalam ruang waktu
ya aku di sana dan diam
merasakan gelombang suara yang tak akan pernah bisa didengar oleh telinga
lantunan nada yang begitu indah, membawa jiwamu melayang dan menari
hanya ada aku dan aku
tenggelam dalam suatu momentum kebebasan imajiner

Kamis, 03 September 2009

die Zeit


waktu kelak akan berpuisi jua

paradoks

hidup dalam suatu ruang waktu
ruang milik sang waktu yang maha kuasa

menghayati sebuah kegelapan abadi
bertanya bilakah waktu berkata bahwa aku telah mendapat cukup sinar
menghayati sebuah perpisahan abadi
bertanya bilakah waktu berkata bahwa aku telah cukup bertatap muka

aku terus berjalan untuk menikmati tidur yang lelap
aku setia hadir untuk mendengar nyanyian sayonara yang merdu

bersiap menyambut kematian
menghayati kehidupan, menghayati penerimaan
bersiap menyambut pesta perpisahan
menghayati waktu, menghayati syukur

aku hidup, menghayati kematian
aku datang, menghayati kepergian